Urusan Senjata Harus Ekstra Hati-hati

OLAHRAGA menembak kian mendapat tempat dihati masyarakat. Ini terlihat dari makin tingginya animo warga sipil yang ingin menjajal olahraga pemicu andrenalin tersebut. Kalau sebelumnya, aksi dar der dor ini hanya didominasi para anggota TNI, sekarang sudah bertebaran klub menembak yang anggotanya dari berbagai lapisan masyarakat.

Tak salah, kalau kemudian banyak klub menembak yang terus berbenah dan menawarkan beberapa program latihan menembak. Dari sekian banyak klub yang ada di Jakarta, Jayakarta Shooting Club ( JSC) boleh dibilang paling eksis dan menjadi lokasi favorit latihan.

Tentu, eksistensi ini tak terlepas dari kesungguhan para pengurus JSC yang mampu mengkoordinir anggotanya dengan baik. Termasuk membentuk kedisiplinan berlatih sehingga lahir beberapa atlet andalan di tingkat nasional bahkan international.

Wakil Ketua Harian JSC, Rizal Mulyana
Wakil Ketua Harian JSC, Rizal Mulyana

Salah satu yang memegang peran penting di klub ini adalah Rizal Mulyana selaku Wakil Ketua Harian JSC. Pria yang cukup mahir di sesi tembak reaksi ini tak pernah berhenti mengenalkan olahraga menembak di kalanganan sipil. Mulai dari birokrasi, politikus, artis, mahasiswa hingga ustadz.

“Organisasi ini berdiri karena ingin mengakomodir teman-teman sipil untuk berkesempatan terjun di dunia olahraga menembak. Sebelumnya kan menembak kesannya hanya oleh anggota TNI dan Polri saja. Nah, sekarang sipil bebas memilih klub untuk bisa menembak,” kata Rizal saat ditemui Majalah Menembak di Lapangan Tembak Falatehan, Kodam Jaya, pekan ini.

Tujuan lain dari JSC adalah ingin melahirkan kader-kader penembak dari generasi muda yang handal. Mereka akan dilatih untuk menjadi atlet olahraga menembak yang bisa mewakili daerah atau Indonesia di beberapa event.

Memang tak dipungkiri, kendala dari penembak, satu yang paling penting adalah masalah senjata. Tidak gampang memegang senjata karena harus melalui prosedur negara.

“Perlu ketelitian yang tinggi dalm urusan senjata, tidak boleh sembarangan. Begitu juga msalah peluru dan terkahir masalah pelatih yang benar dalam mengajarkan menembak,” kata sosok yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengelola Pusat belanja Indonesia (APPBI).

Wakil Ketua Harian JSC, Rizal Mulyana
Wakil Ketua Harian JSC, Rizal Mulyana

Saat ini, pelatih menembak di tanah air masih kurang. Ada beberapa pelatih senior seperti Agus Budi Hartono, dan Hendra Tanu yang tentu tidak bisa meng-cover begitu banyak klub di Indonesia. Oleh sebab itu, memang sudah harus dipikirkan untuk melahirkan kembali pelatih-pelatih mahir yang bisa membentuk atlet menembak.

Beruntung, pihak Kodam Jaya sangat mendukung penuh aktivitas JSC sehingga perkembangannya makin pesat. Kodam Jaya juga memberikan fasilitas senjata untuk berlatih, peluru, termasuk gudang penyimpanan senjata milik anggota.

“Banyak anggota yang memiliki senjata sendiri, tapi tidak boleh dibawa pulang. Wajib di simpan disini. Kecuali saat akan mengikuti event, senjata bisa keluar dengan dibekali surat pengantar atau surat jalan dari organisasi,” katanya.

Masih soal pelatih, menurut Rizal, yang paling tepat berasal dari TNI dan dibantu oleh senior-senior yang sudah berpengalaman. Sebab, tak selamanya lebih pintar dari sipil dalam menembak. Dari sini diharapkan bisa lahir atlet berkualitas dari Indonesia.

Dijelaskan Rizal, untuk mendapatkan kartu anggota Perbakin, calon atlet harus dibina dulu oleh klub. Tidak bisa langsung datang, mau menembak kemudian dapat kartu keanggotaan.

“Salah satu syaratnya ya harus dibina dulu oleh klub. Oleh sebab itu, kodam melihat ini menjadi sangat penting untuk melatih penembak, karena kalau salah mendidik maka jadinya salah juga,” ungkapnya.

Dalam membangun kemitraan dengan sesama klub, JSC sudah melakukan beberapa kali event menembak. Dan tahun ini sudah merupakan event ke 5, dalam rangka memperebutkan piala bergilir Pangdam Jaya.

Wakil Ketua Harian JSC, Rizal Mulyana

“Tak lama setelah berdiri JSC (2011), saya bersama tema-teman kemudian merintis event ini, dan alhamdullilah terus berjalan. February 2017 mendatang, event memperebutkan Piala Bergilir Pangdam Jaya kembali akan kami gelar,” kata alumni Resimen Mahasiswa Atma Jaya ini.

Menurut Rizal, Kodam Jaya melalui JSC terus merekrut calon-calon petembak dari sipil yang dilatih oleh Kodam Jaya, sehingga melahirkan petembak-petembak profesional, yang bisa membela nama bangsa Indonesia di kancah nasional dan internasional lewat olah raga menembak.

“Anggota JSC berlatih menembak setiap Sabtu di lapangan tembak Kodam Jaya. Dan Pangdam Jaya selaku Pembina JSC memberi perhatian yang baik kepada anggota JSC, sehingga latihan menembak ini memang rutin dilakukan. Kami selalu mengikuti kejuaraan menembak baik di tingkat nasional maupun internasional,” tandasnya

Ditanya sejauh mana minat kalangan muda, seperti mahasiswa untuk terjun di olahraga menembak, Rizal mengemukakan, bahwa dalam beberapa roadshow ke kampus yang pernah dilakukan, respon mahasiswa cukup tinggi. Ini bisa menjadi aset untuk menggali potensi atlet menembak.

Bagi mahasiswa yang ingin bergabung dengan JSC, Rizal menyarankan agar bisa dikoordinir melalui lembaga mahasiswa seperti resimen. Ini untuk memudahkan secara administrasi. Namun JSC juga terbuka bagi mereka yang ingin bergabung secara individu.

Rizal pun tak sungkan-sungkan berbagi tips menembak. Satu yang ia ingatkan yakni jangan belajar menembak hanya di satu lokasi saja, tetapi perlu berpindah-pindah tempat menembak agar keterampil membidik makin baik.

“Sebab, belum tentu jago di satu lapangan, kemudian berpindah ke lapangan lain juga memiliki keahlihan yang sama. Biasanya, beda siatu, beda pula hasil tembakannya,” katanya.

Sangat penting mengasa keterampilan menembak ke lokasi lain. Dengan cara ini akan mempercepat adaptasi sehingga makin mahir dalam ketepatan menembak, meski berada di medan yang berbeda.

Menembak memang sudah mendarah daging bagi pria empat bersaudara ini. Dalam keluarga hanya dirinya yang mengikuti jejak orangtuanya terjun menggeluti dunia menembak. Awal pertama ia bergabung di lapangan tembat adalah ketika ada program menunggal TNI.

“Ketika itu saya direkomendasi oleh polisi militer Guntur sebagai mitra sipil untuk bergabung di olahraa menembak,” ceritanya.

Meski fokus utamanya di menembak, namun Rizal masih menyempatkan untuk melakukan aktivitas olahraga lainnya seperti Thai Boxing, fitnes dam jogging. Kesehatan menjadi penting dalam mendukung kegiatan sehari-hari.

“Kalau menembak sih, sudah seperti istri kedua,” ujarnya.

(sasono)

Related posts

Leave a Comment