Tembus 10 Besar Kejuaraan World Shoot XVIII Chateauroux France 2017

Vincentius Djajadiningrat

Vincentius Djajadiningrat

Vincentius Djajadiningrat.

AWAL September 2017 memberikan kegembiraan tersendiri bagi komunitas olahraga menembak Indonesia. Salah satu atlet tim menembak Indonesia, Vincentius Djajadiningrat, berhasil menembus posisi 10 besar XVIII World Shoot yang digelar di Chateauroux, Prancis, pada Minggu, 3 September 2017.

Vincent menempati posisi sembilan dalam klasemen akhir, dengan nilai 2094.9076 poin. Sedangkan posisi puncak alias sang jawara diraih atlet tuan rumah Eric Grauffel, atlet tuan rumah, menjadi yang terbaik dengan nilai 2274,6047 poin.

Pada XVIII World Shoot ini, Indonesia mengirimkan 16 atlet. Selain Vincent, ada juga atlet tembak putri, Sarah Tamaela, yang bertengger di posisi ke-14, setelah sempat menembus posisi runner-up. Ada juga Sonny Prabowo yang menempati posisi 18.

Kejuaraan menembak tingkat dunia ini membutuhkan ketahanan fisik yang prima. Sebab, suhu di kawasan Chateauroux berubah-ubah secara ekstrem. Dari 41 derajat Celciuns dan bisa turun jadi 9 derajat Celcius, disertai hujan.

Vincent memang bukan atlet asing di dunia menembak Indonesia. Atlet kelahiran Jakarta,

2 Agustus 1997 (20 tahun) ini menekuni olahraga menembak sejak belia, dengan sederet trofi saat ini. Hal ini menurun dari sang ayah, Steven Djajadiningrat.

Steven berkali-kali menyabet trofi pada berbagai kejuaraan, selain gemar berburu. Steven sendiri mewarisi darah menembak dari ayahnya. So, hobi menembak pada diri Vincent berasal dari sang kakek.

Vincent tak sendirian dalam hobi menembak. Kakaknya, Jemmy Djajadiningrat, juga mewarisi darah menembak dari Steven. Lengkap sudah warisan darah menembak pada keluarga Steven.

Steven sendiri sangat total dalam menggeluti hobi berburu. Di tengah kepadatan aktivitasnya sebagai salah satu pejabat kantor perbankan, Steven selalu menyempatkan diri untuk berburu.

World Shoot XVIII Chateaurouox France 2017“Jauh sebelum menikah, saya sudah hobi berburu sampai sekarang. Anak sering juga saya ajak. Selalu ada kerinduan untuk membidik babi hutan,” kata Steven kepada Majalah Menembak.com

Sedangkan Vincent lebih banyak menggeluti olahraga menembak. Apalagi ia juga masih berbagi waktu dengan kuliah.

Vincent sangat berkesan ketika mengikuti “12th Demetrio Bolo Tuason Cup” di Filipina. Itu terjadi tahun 2012  ketika Vincent baru berusia lima tahun.

Ia berkesan karena harus menghadapi atlet senior, selain sesama atlet junior. Ia benar-benar harus mengatasi perasaan grogi. Di kelas junior, ia meraih peringkat ketiga. Sebuah capaian yang impresif bagi Vincent yang baru berusia 15 tahun kala itu.

Sebelum mengikuti kejuaraan menembak tingkat dunia di Prancis, Vincent juga meraih juara pertama Dankorps Paskhas 2017 di Malang, Juli 2017. Vincent meraih juara pertama di Divisi Standard.

Penulis. Pelitha nur aminy

Related posts

Leave a Comment