Dari Berburu ke Reaksi

Bambang Trihatmodjo

Bambang Trihatmodjo

Ketua Umum PB Perbakin Bambang Trihatmodjo

Bicara tentang olahraga menembak, pasti orang akan mengingat nama Bambang Trihatmodjo, putra ketiga mantan Presiden RI Soeharto (alm) ini memang tidak pernah  meninggalkan menembak, yang sudah ditekuninya sejak kecil.

Ketua Umum PB Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), selalu ikut serta dimanapun dan kapan pun dibawa sang bapak pergi berburu. Mungkin karena sedari kecil sudah kenal senjata dan kesenangan berburu binatang, pria kelahiran Solo, 23 Juli 1953  tak bisa jauh-jauh dari menembak.

Mahir berburu tentu saja memberi pengaruh besar dalam diri Bambang untuk terus mengamalkan ilmunya bagi petembak pemula di tanah air. Tahun 1997 an ia memperkenalkan tentang tembak reaksi di Indonesia. Ilmu yang didapatnya di Amerika disebut combat shooting yang diubah nama menjadi tembak reaksi dan masuk dalam kategori cabang pada olahraga menembak.

Selain berburu, Bambang dikenal sebagai ahlinya tembak reaksi Indonesia. Kesenangan melakukan tembak reaksi terus dijalani hingga kini. Pada tiap event menembak Bambang selalu menyempatkan diri hadir sebagai atlet tembak reaksi untuk kelas eksekutif.  “Tembak reaksi melatih kita untuk terus fokus, cepat dan tepat dalam membidik target,” tuturnya. Seiring dengan pesatnya perkembangan tembak reaksi, ia pun semakin gembira karena  khusus untuk cabang ini peminatnya cukup banyak. Terlihat pada setiap pertandingan tembak reaksi yang digelar jumlah peserta selalu membludak. “Tembak reaksi memberi kesenangan tersendiri, dan dapat terus dinikmati oleh petembak,” ungkap Bambang, yang ditemui beberapa di lapangan tembak berbeda saat mengikuti event tembak reaksi.

Menurutnya, perkembangan olahraga menembak di Indonesia makin pesat. Terbukti sudah banyak atlet menembak yang bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. “Saya juga bangga dengan klub-klub yang banyak tumbuh dimana-mana, mereka juga giat menghasilkan atlet handal cabang menembak,” jelas Bambang.

Apalagi dihubungkan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. “Masih ada waktu beberapa tahun untuk menciptakan atlet-atlet berbakat yang dapat mengharumkan nama bangsa. Mudah-mudahan dunia menembak juga dapat menjadi salah satu cabang olahraga yang dapat melakukan hal itu dan menyumbang medali,” katanya.

Hal ini cukup menjadi perhatian Bambang, sebab Indonesia masih membutuhkan atlet berkualitas. Sementara, waktu untuk dapat menciptakan atlet yang berkualitas sangat bervariasi. Banyak faktornya, mulai dari sistem pelatihan, jam terbang, kualitas individu, juga sarana dan prasarana yang digunakan untuk berlatih. “Salah satunya dengan sering berlatih dan mengikuti pertandingan, untuk lebih mendapatkan feel di lapangan tembak. Cara paling mudah dengan bergabung di klub menembak,” tuturnya. (itha)

 

 

 

Related posts

Leave a Comment